Home

Kamis, 11 April 2013

Idoling Itu Mahal, Tapi….


Gue pernah ngitung, biaya gue ngidol dari awal sampe akhir. Itungan kasarannya, kalo dalam sebulan gue nonton teater 2 kali, dari mei-oktober, berarti udah abis 600 ribu. Itu kalo cuma nonton 2 kali. Kalo tiap bulan gue beli 1 pack potopack, berarti udah abis 300 ribu selama 6 bulan. Kalo gue beli swag lainnya, misalnya 1 kaos aja, harganya 85 ribuan. Lighstick, ambil rata aja 100 ribuan. Jadi kalo ditotal selama 6 bulan gue udah abis duit lebih dari 1 juta rupiah. Kalo dirata-rata, per bulan gue abis sekitar 200 ribuan.


Itu baru itung-itungan kasarannya lho ya! Belum lagi kalo misalnya ngelive di luar teater, beli swag lebih, terus biaya transport, biaya makan, biaya hidup di Jakarta buat yang dari luar jakarta, akomodasi. Ah…banyak banget. Gue pernah ngobrol sama salah satu temen gue, bukan temen juga sih. Masa iya gue temenan sama em… #nomention deh. Ya intinya temen gue bilang gini,”Gila ya! Udah nggak logis sih menurut gue!”

Waktu itu gue masih mikir, sebelah mananya yang nggak logis. Tapi sebagai orang yang pernah belajar dari TK sampe SMA, dan kuliah di jurusan ekonomi (yang mempelajari teori kapitalisme dan neoliberalisme) rasanya ketidaklogisan ini memang semakin menonjol.

Bukti ketidaklogisan yang gue maksud misalnya adalah proses idoling yang ‘harga’nya semakin lama semakin melambung. Kalo teori supply & demand klasik yang pernah gue pelajari, semakin banyak permintaan, supply terbatas, maka harga otomatis akan semakin meningkat. Nah, mungkin ini yang terjadi pada salah satu bagian dari idoling yang bakal rame tiap ada peluncuran photopack baru. Maaf nih, kan udah gue bilang, kalo nggak kuat sama tulisan blak-blakan, mending diclose aja page ini. hehehe….

Kenapa gue ngambil contoh idoling yang nggak logis bisa keliatan pas ada photopack baru? Let’s see! Harga 1 pack photopack yang dijual official normalnya adalah sebesar 50 ribuan. Dulu awal-awal sih kalo nggak salah pernah dijual 40 ribuan. Oke, setelah photopack jatuh ke tangan para pembeli, muncullah fenomena trading. Gue nggak tau kapan pertama kali istilah trading itu muncul. Tapi yang gue tau sih trading itu normalnya photopack A dituker sama photopack B. Tanpa ada embel-embel apa-apa, apalagi duit. Tapi…

Fakta yang gue tau adalah, dari waktu ke waktu, trading photopack semakin ‘tidak logis’. Ketidaklogisan ini berkembang ketika trading photopack berkembang jadi proses jual beli photopack.

Nah, that’s the problem.

Apakah jual beli photopack itu salah? Bener? Dosa? Haram? Apa halal?

Sebelumnya gue mau cerita dulu. True story. Dari temen gue, temen idoling, yang ngeracunin gue sama dunia idoling juga. Hahaha….
Kejadian ini dialaminya ketika dia beli OGB di teater. Dan kebetulan, waktu itu dia dapet bonus foto salah satu member. Karena bukan oshinya, dan dia nggak berniat buat koleksi photopack gituan, dia share itu ke twitter, ya bahasa simpelnya dia mau ngelelang. baru beberapa jam lelang, ada penawaran mencapai lebih dari 100 ribu. Terus dia cerita ke gue. Intinya dia kaget. Bahkan ke arah panik, soalnya harganya kok bisa lebih dari di atas ekspektasinya. Dan itu bid belum ditutup.

Dia makin panik ketika ada penawaran photo di atas 200 ribu.

“Buset!” Gue bilang gitu.

Dia makin panik, dan minta saran. Apa harga bakal diturunin, apa gimana. Kalo harga diturunin, yang nge-bid di atas 200 ribu udah banyak.
Akhirnya gue nyeletuk, entah malaikat apa yang bisikin gue,”Yaudah, mending gini aja. Lu tetep ambil harga bid tertinggi. Kan udah terlanjur dilelang. Tapi ntar duitnya lu ambil secukupnya, terus lu sumbangin ke mesjid.”

Deal!

Oke, dari true story temen gue yang satu itu, bisa diambil hikmahnya kurang lebih gini, ternyata banyak juga orang yang ‘mau bayar’ swag dengan harga jauh di atas harga normal. Kok bisa? Ya mungkin karena mereka emang punya duit.

Terus kalo dihubungin ke jual beli photopack gimana?

Salah kah?

Gue sebagai orang yang 4 tahun dicekoki teori kapitalisme, gue rasa nggak salah. Selama ada permintaan dari ‘konsumen’ mana ada penjual yang nolak. Apalagi kalo ada harga tinggi.

Tapi balik lagi ke omongan temen gue yang awal. LOGIS?

Logis tidaknya itu sebenernya balik lagi ke konsumen itu sendiri. Kenapa? Penjual nggak bakalan ngasih harga tinggi kalo nggak ada yang mau beli segitu. Konsumen yang cerdas harusnya tau harga dasarnya itu berapa. Kalo ada photopack harga 50 ribu isi 5, berarti normalnya selembar 10 ribu. Nah, kalo ditambah ongkos antri dll, paling abis 30 ribu. Jadi selembar photopack normal kalo dijual di ‘reseller’ ya paling mahal harusnya sih 40 ribu.

“Tapi kan ini limited, Bro!” Ya, di teori kapitalisme, atau bahkan neoliberalis, barang limited harganya bisa diluar ekspektasi. Misalnya, mobil lamborghini cuma diproduksi 5 biji. Nah, apa iya harganya bakal cuma 1 milyar? pasti bakal ada yang nawar 100 miliar. bahkan bisa jadi lebih dari itu. Tergantung berapa 5 harga tertinggi dari mobil itu.

Tapi balik lagi ini tergantung ke perilaku konsumennya. Kalo konsumen punya ‘power’ buat nahan harga biar kenaikannya masih normal dan logis, setidaknya para penjual photopack juga bakal mikir ulang seberapa besar kenaikan harga yang bakal dibuat.

“Idoling itu memang ‘mahal’. Makannya, percuma kalo duit, tenaga, dan semua materi yang kita keluarkan tapi kita nggak bisa dapet pelajaran berharga dari idoling itu sendiri.”

Karakter Fans Berdasarkan Cara Meng-Oshi-Kan


Sekitar bulan Mei lalu, 
“Oh…jadi elu ngasih panci ke dhike?” Tanya gue sambil megang recorder ke seorang narasumber gue. Sebut saja namanya Steve, 20 Tahun, Jomblo. 
Kemudian Steve menjelaskan kronologis kejadiannya, mulai dari Tempat Kejadian Perkara, sampai dia sedikit merekronstruksi tragedi serah terima panci dari seorang fans kepada idolanya.
Dan gue cukup menikmatinya dengan manggut-manggut. Di akhir wawancara, Steve kemudian bertanya,”Lha elu Oshinya siapa?”
Oshi? Oshi apaan?  Seketika gue berasa menjadi orang paling bego diantara sekerumunan fans. Em…cuma lima orang kerumunan doang sih. Tapi tetep aja ngerasa bego karena diantara semua orang yang ada di kerumunan, gue kicep ketika ditanya tentang Oshi.
“Oh…gue belum punya. hehe…kan masih fans nubitol.” kata gue di tengah kerumunan. Kata ‘belum punya’ menjadi tameng paling ampuh buat menghindari tampang bego diantara wajah-wajah penuh pengetahuan lainnya. Oke. Fix. And the stories about ‘oshi’ was begin….
Usut punya usut, karena nggak mau keliatan bego lagi di depan fans lain, gue mulai menelusuri apa makna dari Oshi itu sendiri. Dari hasil penelusuran gue, salah satu notes di facebook ada yang bisa menjelaskan dengan singkat, padat, dan jelas.

Oshimen:
  berasal dari kata ‘oshiteru member’ yang berarti member yang kamu dukung dari sebuah grup. biasanya fans hanya memiliki satu oshimen dalam sebuah grup.(contoh di AKB48 oshi saya adalah Shinoda Mariko, di SKE48 oshi saya adalah Matsui Rena, di JKT48 oshi saya Dhike)
Oshihen: 
Ketika anda mengganti oshi dari satu member ke member lain. secara umum ini tidak diperbolehkan.
Kami-oshi:
 Harafiahnya ‘God Oshi’(arti di bahasa Indonesia adalah Oshi Dewa, maksudnya Oshi yang paling engkau dukung.). Kami-Oshi adalah Oshi paling penting di antara seluruh Oshimenmu (dari grup yang berbeda,tentu saja)
DD:
 Singkatan dari ‘Daredemo Daisuki’, maksudnya ‘saya suka semua’. Diterapkan untuk semua orang dengan lebih dari satu Oshimen di grup yang sama.
MD:
 Singkatan dari ‘Minna Daisuki’, maksudnya ‘saya suka semua orang’. Sama dengan DD, tapi dengan seorang Oshimen

Hm…biar nggak keliatan bego, kalo bisa fans sih tau makna semua itu. ya…itung-itung sekalian belajar bahasa jepang lah! Hahaha…ada untungnya juga sih ngefans sama idola yang ada bau budaya jepangnya. Sekalian jadi kita bisa belajar budaya bahasa Jepang.

Oke. Intermezo yang kepanjangan bisa bikin kepala jadi puyeng. Lah? Tadi baru intermezo?Kayaknya sih iya.
Hahaha…
Ngomongin soal Oshi, sebenernya banyak alasan bagi seorang fans yang memutuskan kenapa harus meng-oshi kan seorang member. Kalo dijabarkan, kayaknya bisa jadi satu teori psikologis, atau bahkan teori fenomena sosiologi moderen di kalangan anak muda seusia 13-28 tahun. Hadeh…bisa-bisa Karl Max atau Emile Dunkheim bakal hidup lagi gara-gara cuma satu kata, Oshi.

Kalo dari pandangan gue,  pribadi, ada beberapa alasan kenapa orang meng-oshi-lan seorang member. Nggak semuanya gue jabarin, tapi seenggaknya semoga penjabaran ini bisa mencakup karakter fans secara umum. Oke?
Yang pertama, fans meng-oshi-kan seorang member karena faktor wajah. Bisa karena member itu punya tampang loli, imut, cakep, innocent, atau cantik. Yaa..ini sih jenis fans umum. Fans yang masih dalam taraf wajar. Karena mau nggak mau, dunia hiburan memang menjual wajah. Tapi memang selain wajah juga bakal ada faktor lain yang diperlukan, misalnya performa, dance, atau suaranya.

Yang kedua, fans meng-oshi-kan seorang member karena faktor dia mirip sama pacar atau mantannya yang dulu. Nah! Kalo yang ini jenis fans yang gagal move on. Jenis fans ini menganggap bahwa dunia sudah sangat sempit, jadi semua orang yang mirip dengan orang yang pernah singgah di hatinya akan menjadi orang yang spesial di mata dia.

Yang ketiga, fans meng-oshi-kan seseorang karena faktor “peristiwa pertama”. Yaa….kata pepatah, penampilan pertama itu akan sangat mengesankan. Mungkin ini juga berpengaruh sama fans yang meng-oshi-kan seorang member karena faktor peristiwa pertama. Bisa jadi dia tatapan sama member (padahal member nggak ngerasa tatapan juga sih)…hehehe….bisa jadi pas lagi di jalan ketemu member, terus member senyum (padahal member senyum ke orang lain), em bisa juga pas yah…banyak peristiwa tak terduga yang bikin orang ngerasa hatinya bergetar pas ngeliat atau menatap seorang member. Nah, kalo yang ini, gue mengistilahkan sebagai jenis fans yang mudah terketuk hatinya. Et dah! kayak acara mamah dedeh.. -__-*

Nah, ini yang terakhir nih. em….
Fans meng-oshi-kan seseorang tanpa sebuah alasan yang jelas. Biasanya ini jenis fans labil. Bisa jadi fans ini gampang goyah hatinya, lalu oshihen ke member lain dalam jangka waktu yang singkat. Ibarat pacaran, belom genep seminggu udah putus, terus ganti pacar lagi. Belum genep seminggu lagi, udah ganti lagi. Mereka beranggapan oshihen adalah siklus hidup yang perlu dinikmati prosesnya. Yaa…oshihen sih boleh aja. Tapi nggak tiap minggu ganti oshi juga kali. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Bisa jadi diantaranya adalah karena fans belum ngerti bener apa makna idoling, makna saling mendukung, dan makna menikmati totalitas sebuah hiburan. Masih lazim sih. Gue mengistilahkan jenis ini sebagai fans yang overoshis. Di mana-mana, yang udah pake istilah “over” itu nggak baik buat kesehatan.

Oke! Seperti yang udah gue bilang, ganti oshi itu nggak masalah. asal jangan gonta ganti mulu tiap hari. Em…terus ada satu hal yang lebih penting. Jangan samakan oshi dengan pacar! Kenapa? Karena emang oshi itu beda sama pacar. Kalo pacar, ini proyek masa depan. Proyek yang harusnya dibangun biar bisa sehidup semati. Kalo Oshi? Ini proyek jangka pendek hingga menengah. Proyek semu yang cuma bisa dinikmati dari layar kaca, dari kursi penonton teater, dan dari sesi hi touch. Selebihnya? Bakalan menyesal di kemudian hari. Hehehe…..

Tapi, bagaimanapun cara elu meng-oshi-kan seorang idol, Yang Penting Punya Oshi™

Ngidol Untuk Senang-Senang, Bukan Untuk Urusan Hati


Teater Hari rabu,
Faktor jomblo (atau setengah jomblo, lebih tepatnya) karena status masih digantungin sama anak pak haji menyebabkan hobi jalan-jalan di fx semakin menjadi-jadi. Seenggaknya, sejak Teater permanen dibuka, dari hari sabtu sampe rabu, entah mengapa ada waktu kosong di mana gue bisa gentayangan di kawasan fx.
Oke. Mungkin ini suatu kebetulan, kebetulan yang rasanya nikmat. Kebetulan yang didukung juga email pemesanan tiket yang nembus semuanya. Dari hari sabtu, minggu, senin, rabu, jumat, gue nembus semua kecuali hari sabtu. Masalahnya gue salah format email pas ngirim hari sabtunya. Huehehe….

Sepertinya bagian basa-basi disudahi dulu.

Lanjut ke bagian yang agak berbobot dikit. Kalo pas teater hari minggu gue duduk di sebelahnya fans asal singapura, di hari minggu, entah emang lagi edisi fans asing apa gimana, tim uwo juga duduk di sebelahnya orang singapura lagi. Bedanya, kalo waktu itu masih mahasiswa, yang kemaren rabu ngakunya karyawan perusahaan yang baru 2 tahun ada di Indonesia. Oke, ini bukan topik pembicaraan utama di notes ini. Cuma agak aneh aja, udah 2 kali nonton, tim Uwo ditakdirkan duduk di sebelah orang asing yang bahasa Indonesianya terbatas, dan mengharuskan tim uwo meladeni pembicaraan dengan bahasa Inggris. Mungkin ini pertanda dari Tuhan bahwa suatu saat nanti Tim Uwo bakal go internasional. Hahahaha….udah mulai ngelantur tingkat setan nih gue. :) )

Lanjut, seperti teater biasanya, gue lebih milih menikmati penampilan teater dengan tangan kosong alias tanpa lighstick, dan lebih memilih ngikutin lirik lagu teater. Gimana ya, percuma udah apal liriknya tapi nggak memanfaatkan momen teater sebagai momen karokean dadakan. hahaha…yaa…anggap aja lagi karokean bareng member. *uhuk

Disaat lagi menikmati penampilan para member, tangan gue gatel pengen ngetweet. Yaa…sekalian juga sih ada bbm yang masuk. Maklum, jadwal teater di weekdays, juga jam 19.00 sebenernya masih jam rawan-rawan kerjaan. Pasti ada aja kalo lagi nonton teater, terus bbm masuk nanyain kerjaan. Atau kalo nggak nanyain tugas kuliah. Yaa…gini-gini gue masih mahasiswa gituloh! mahasiswa tingkat akhir sih. :p

Pas gue ngecek bbm, terus ngecek mention, eh ada satu mention yang menurut gue sangat menggelitik sampe perut gue makin mules dan menyebabkan fenomena langka di teater, kebelet boker. Ya…sebelum teater, gue emang sempet ngetweet sih, inti isinya ya biasa lah, “Mau nonton Teater JKT48″.

Cuma itu. tapi dari sekian banyak tanggapan, ada 1 tanggapan yang menurut gue diluar kebiasaan fans dan follower gue. Tanggapan dia berkaitan dengan istilah pedopil yang dikaitkan sama kelakuan gue yang hampir tiap hari nonton teater.

Oke, yang jadi permasalahan adalah, apakah dengan nonton teater JKT48 tiap hari bisa menyebabkan penyakit pedopil seperti yang dituduhkan sama seorang follower gue yang budiman itu?

Hm….karena gue penasaran, gue coba bongkar lagi istilah pedopil yang belakangan ini sering gue denger di kalangan haters dan fans yang pola pikirnya masih dangkal. Dari wikipedia, gue bisa tau bahwa pedopil sebenernya berasal dari bahasa Yunani: paidophilia (παιδοφιλια)—pais (παις, “anak-anak”) dan philia (φιλια, “cinta yang bersahabat” atau “persahabatan”.  pedofilia didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa (pribadi dengan usia 16 atau lebih tua) biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada anak prapuber (umumnya usia 13 tahun atau lebih muda, walaupun pubertas dapat bervariasi). Anak harus minimal lima tahun lebih muda dalam kasus pedofilia remaja (16 atau lebih tua) baru dapat diklasifikasikan sebagai pedofilia.

Dengan demikian, gue sangat yakin bahwa orang yang dengan gampangnya men-judge seorang fans yang mengidolakan idolanya yang masih belia itu terserang penyakit pedopil, berarti orang itu masih perlu belajar banyak tentang kata pedopil itu sendiri.

Kenapa gue bisa bilang gitu?

Alasannya simpel. Pedopil itu kan penyakit psikis yang berkaitan dengan cinta, urusannya sama hati. Nah, kalo ngefans? Idoling? Dan sejenisnya itu, urusannya sama kesenangan. Yaa….seneng-seneng itu nggak bisa dong dihubungin sama cinta. Apalagi nganggap idol kayak pacar sendiri. Lu pikir elu siapa? Huehe….itu sih pendapat gue. Dan gue rasa banyak yang sependapat sama gue.

Emang, sekarang ada fenomena oknum fans yang menganggap oshinya itu sama kayak pacarnya. Lah? Itu yang perlu dipertanyakan. Tapi gue rasa, itu hanya oknum minoritas. Dan mereka mungkin masih belum sadar benar apa makna dari idoling itu sendiri.

Idoling cuma buat seneng-seneng. Kalo lu udah menghubungkan idoling dengan urusan hati, ya siap-siap aja lu kecewa. Karena pada dasarnya, fans dan idola sebenarnya hanyalah hubungan yang sebatas pada performa di atas panggung. Kalo mau ngrurusin soal privasi dan lain sebagainya, elu udah termasuk dalam golongan fans-fans yang zomblones. jadi, cepatlah bertaubat.

Tapi kok gue pikir-pikir, omongan gue yang sekarang kayaknya agak berat ya? Huehe….

Gue sendiri males baca ulang tulisan gue yang ini. Haha…takut jadi pusing sendiri malah entar. :D
Tapi semoga tulisan gue yang nggak jelas ini bisa bermanfaat bagi para fans, dan idolanya. :)
Jangan gampang ngejudge seseorang dengan istilah sensitif sejenis pedopil. :)

Idoling Kok Dibikin Susah


Di Indonesia, sekarang JKT48 mulai banyak dikenal. Dan semakin dikenalnya JKT48, istilah “idoling” yang tadinya awam di telinga masyarakat indonesia pun semakin mulai diterima. Mungkin karena platform yang diangkat adalah “idol group” fans yang melakukan aktivitas berkaitan dengan JKT48 dan 48family lainnya dinamakan juga dengan istilah idoling.
Odoling oh odoling…
Eh, maksudnya idoling… Maaf, yang nulis lagi galau soalnya. Bukan galau gara-gara nggak dapet tiket sih. Tapi galau gara-gara kebanyakan baca twitnya Uwo yang seputar mantan, gebetan, jomblo, dan sejenisnya. Jadi… jadi keinget sama mantan yang nun jauh di sana.
Alkisah…
Hampir enam bulan belakangan ini, JKT48 udah mulai banyak dikenal di Indonesia. Apalagi idol group yang satu ini juga udah mulai sering nongol di media-media, termasuk TV, radio, internet dan sejenisnya.
Ngomongin soal idoling, pasti ngomongin juga soal efek dari seseorang yang menjadi penikmat dari dunia idoling itu sendiri. Sebenernya, sesuatu bisa dibikin simpel kalo orang itu cuma menikmati idoling sebatas kursi penonton dan panggung pertunjukkan. Tapi sayangnya, banyak banget magnet di dunia idoling yang bikin para penikmatnya tertarik buat ngikutin hal-hal di luar panggung. Logikanya, selama performa idol bagus di atas panggung, itu udah jadi hal yang sangat cukup bagi fans buat merasakan kepuasan.
Tapi anehnya, sekarang fans nggak puas cuma nonton idol mereka di atas panggung, di depan layar kaca, atau dengerin suara mereka dari pemutar musik atau radio-radio. Nggak tau kenapa, justru komposisi dunia idoling di Indonesia, sekarang udah mulai berubah. Harusnya komposisinya lebih banyak interaksi antara fans dan idolanya di atas panggung, tapi sekarang malah lebih banyak yang berkaitan di luar panggung.
I dont know, maybe, it’s just my argument… but….
Sekarang fans di Indonesia, lebih banyak ngomongin hal-hal yang berasal dari luar penampilan idolnya. Ya…ini pendapat aja ya. Dan konteksnya ada di dalam linkup idoling JKT48. Buat apa juga ngomongin idol lain, toh kebanyakan yang baca ini adalah fans dari JKT48. :)
Nah, faktanya sekarang, banyak fans yang justru merasa ingin tau lebih tentang hal-hal yang berada di luar panggung idolanya. Termasuk sekolahnya dimana, rumahnya mana, dan kalo perlu, orang tua idolanya itu siapa. Apakah ini ngaruh sama penampilan idolanya? Dan apakah ini masih wajar? Bagi sebagian besar orang, mungkin ini wajar. Tapi kalo dibiarin terus, lama-lama penampilan idola nggak diomongin, malah justru fans lebih sibuk ngomongin hal-hal yang menjurus ke privasi seseorang.
Bayangin aja, sebagai orang biasa, lama-lama kita juga nggak suka kalo urusan pribadi kita diurusin bahkan diomongin berkali-kali sama orang lain. Hm…
Idol juga manusia, guys!
Mungkin juga cara interaksi fans yang berbeda antara di Indonesia dengan di Jepang, atau di negara lain. Negara Indonesia sudah dibudayakan dengan hal-hal yang berkaitan sama cerita rakyat, terus omongan dari mulut ke mulut, sampe akhirnya jadi gosip.
Yap! Ujung-ujungnya gosip.
Coba cek daftar acara AKB48 atau sistergroupnya di jepang. Mereka memang nggak bisa terlepas dari gosip, rumor, dan sejenisnya. Tapi apakah gosip dan rumor mereka sampai menjadi bahan konsumsi publik secara terang-terangan, atau sederhananya, sampe disiarin di berbagai media televisi berkali-kali?

Sekarang giliran fans yang punya peran. Emang sih, keingintahuan akan idolanya makin lama makin nggak bisa kebendung. Dari A sampe Z kalo perlu harus tau. Tapi fans yang cerdas juga perlu punya kemampuan buat membedakan mana yang bisa jadi konsumsi publik, mana yang cukup diketahui idolanya.
Sederhananya, idoling itu buat senang-senang. Kalo kebanyakan tau urusan pribadi idola, malah lama-lama idoling jadi hal yang mengganggu. Mengganggu pikiran, waktu, dan tenaga. Apakah hal-hal yang mengganggu itu malah jadi hal yang bisa dibanggakan dari seorang fans?
It’s Up to you :)

Katanya Sesama fans?? Tapi kok…


Sekarang fenomena idoling udah jadi fenomena yang lumayan rame buat di ulas, kalo kata silet udah merupakan hal yang layak untuk diangkat dan diperbincangkan. Sampe ada istilah-istilah Wota, Super Wota, manusia Langit, VVota, zombie, Zomblo, Sepuh (pewarna kali) . Atau apalah itu namanya yang makin lama makin banyak aja istilah-istilah baru :D .
Sebenernya ga ada masalah dari istilah-istilah yang dibuat sesama fans ini. Yang jadi masalah itu ketika istilah-istilah kaya diatas dibuat untuk mengkotak-kotakan atau bahkan ngejelek-jelekin fans lain. Kaya istilah zombie yang dipake untuk orang lain. Agak kasian sih ngeliat beberapa oknum dibilang zombie-zombie sama oknum lainnya. Padahal mungkin itu karena mereka BELUM tau aja gimana cara ngidol yang bener. Nah disini peristiwa yang cukup miris untuk dilihat. sesama fans yang seharusnya saling dukung malah saling ngejelekin. Hemm dan lagi pihak yang (ehem) merasa dirinya paling bener bukannya ngasih pendidikan yang bener malah Cuma nge-judge aja. Kaya kasus ada fans yang nyari-nyari mengenai privasi member Cuma di tweet atau diteriakin “ZOMBIE” di pojokin di twit tanpa dikasih tau  gimana seharusnya yang bener. Inget woy ngehina orang dosa. *uhuk
Oke balik lagi, gini sekarang coba dipikir deh, apa iya orang bisa sadar kalo Cuma dihina doang? Ngga kan? seharusnya tuh kalian yang ngerasa (buat yang ngerasa loh ya) bener itu ngasih tau cara ngidol yang bener itu seharusnya gimana, bukan buma bisa menghina. Yah kalo balik lagi niatannya (yang katanya) buat support member sih yah harusnya saling memperbaiki sih antara fans yang satu sama yang lainnya, bukan saling menjatuhkan. Dan lagi fans 48 family di Indonesia ga semuanya berasal dari ngefans AKB48 dulu baru ngefans ke JKT48, malah ada yang sebaliknya, nge-fans sama JKT48 dulu baru ke AKB48 (kaya gue). Jadi bisa dibilang umurnya masih baru, ibarat bayi diantara fans-fans yang baru ini belum tau apa yang bener dan apa yang salah di dunia peridolan ini. Jadi Buat yang ngerasa pikirannya udah cerah, ayo mungkin bisa dibantu temen-temennya yang pikirannya belom cerah. Ga ada salahnya kok, toh dulunya kebanyakan dari kita waktu awal-awal (mungkin sampe sekarang) ngidol juga kan ga tau cara ngidol yang bener. Saling mengingatkan, saling member nasihat, pokoknya saling tolong menolonglah dalam hal ngidoling.
Intinya Member ga butuh kok perpecahan antara fans, yang member butuh itu support dari kita. Kalo member dapet support dari kita kan member jadi makin oke tuh, kita juga makin terhibur dan makin seneng juga. Coba kalo pecah pecah kaya telapak kaki kering, kan ga enak diliatnya, tujuannya sama tapi malah saling ngejatuhin. Support yang harusnya bisa massive malah jadi kepecah-pecah. Mau sepuh mau wota mau manusia langit atau segala macemnya, selama kita masih sama-sama mau support idol kita, itu berarti kalo di matematika ada irisan yang ngebuat kita sama. So satu tujuan, ga ada salahnya kalo saling membangun citra baik sesama fans. Unyuuuuuu :D

[FanFict] Kesempatan Tak Datang Dua Kali


Layar laptop masih menyala di hadapan gadis berusia 15 tahun itu. Matanya masih silih berganti memandang layar laptop yang ada di atas meja kamar pribadinya dan kemudian melirik  ponsel yang ada di samping laptopnya. Satu folder dokumen berisi foto digital masih dicermati Shania, satu per satu tanpa ada yang terlewatkan sekalipun. Sesekali terlukis senyum di bibirnya ketika dia melihat foto yang sudah dipindahkannya dari ponsel ke laptop miliknya.
“Aku masih inget kapan foto ini diambil.” Ucap Shania dalam hati ketika layar laptop yang ditatapnya menampilkan foto yang diambil saat dia masih TK. Sesaat kemudian, dia mengalihkan pandangannya dari layar laptop ke arah cermin kamarnya. “Sudah banyak perubahan.” Pikir Shania ketika membandingkan fotonya sendiri yang diambil saat masih TK dengan sosoknya sekarang yang sudah menginjak kelas tiga SMP.
“Banyak banget yang berubah.” Ucap Shania lirih saat dirinya kembali membuka satu demi satu dokumen foto dari laptopnya.
Sekilas, benak Shania berubah menjadi lorong waktu yang membawanya meluncur, setidaknya dari sekitar delapan bulan lalu ketika dia belum bergabung ke dalam sebuah group idola yang membuatnya seperti saat ini. Wajahnya kembali melukiskan senyuman ketika teringat saat pertama kali dia mengikuti audisi dan tahapan demi tahapan sehingga bisa bergabung sebagai satu dari duapuluh empat idola baru di negerinya sendiri.
Kembali Shania menatap satu demi satu foto yang telah dipindahkan dari ponsel ke laptopnya. Jari tangannya yang menekan-nekan mouse laptop terhenti bergerak ketika layar laptop menampilkan sebuah foto berisi bunga-bunga layu yang telah disusun bertuliskan lima huruf, “JKT48″. Dia kembali tersenyum teringat ketika pertama kali dia bergabung bersama duapuluh tiga temannya yang lain dalam sebuah group idola baru di Indonesia. Dia ingat sesaat sebelum foto itu diambil, dia dan duapuluh tiga temannya itu sangat bangga ketika terpilih dalam audisi untuk menjadi sister group pertama dari idol group di Jepang yang sudah dikenal seantero Asia. Dengan terpilihnya mereka dalam audisi dan menjadi member idol group JKT48, mimpi-mimpi sudah mulai dirajut, termasuk mimpi untuk menjadi idola yang tumbuh dan berkembang bersama fans. Mimpi itu ada di benak Shania, hingga sekarang.
Mimpi itu juga yang membuat Shania dan keduapuluh tiga temannya bermimpi, suatu saat akan banyak karangan bunga yang hadir di setiap penampilannya, dimanapun. Mimpi itu membuat mereka merangkai sebuah karangan bunga bekas dan merubahnya menjadi lima huruf, “JKT48″.
“Dulu jadi inget waktu pertama kali jadi member, ada karangan bunga bekas nganggur, dan iseng kita buat jadi kaya gini.” Ujar Shania pelan sambil kembali menatap foto karangan bunga yang telah dirubah menjadi tulisan “JKT48″.
“Dan sampe sekarang pun masih nggak nyangka bermula dari iseng, sekarang udah ada yang kirim karangan bunga beneran buat kita. Ah kenangan indaaahh~” Lanjut Shania, kini senyumnya mengembang. Dia beranjak dari tempat duduk dan laptop di kamarnya. Badannya sudah agak capek setelah beberapa jam ada di layar laptopnya. Belum lagi rasa lelah yang masih terasa hingga sekarang setelah sebulan penuh berlatih untuk penampilan JKT48 Theater yang kedua kalinya. Dia bersyukur lelahnya itu berbuah manis ketika di setiap penampilan JKT48, semua kursi penonton penuh.
“Aku nggak tau apa yang bakal terjadi ke depan tentang saja da JKT48.” Pikir Shania, badannya merebahkan diri di atas kasur kamar pribadi yang sejak kecil menjadi tempat tidurnya. Tempat yang memberinya banyak kenangan, mulai dari dulu saat-saat menjadi gadis biasa, dan kini telah memiliki banyak penggemar.
“Aku bakal berusaha keras dan membuat semua impian kita bersama nyata.” Lanjut Shania sambil memejamkan matanya. Wajahnya kembali tersenyum mengingat mozaik cerita yang seperti ada di dalam dongeng-dongeng yang biasa dibacanya.
Satu mozaik cerita yang tak pernah dilupakan Shania kembali muncul dalam benaknya. Saat-saat pertama dia mendapat kabar lolos audisi tahap pertama, dan diharuskan untuk menjalani training.
“Siapa yang tak bahagia ketika mendengar namanya lolos audisi, lolos adalah mimpi yang menjadi kenyataan.” Shania setengah bermimpi dalam tidurnya. Badannya sudah malas untuk digerakkan. Namun pikirannya masih bersemangat untuk mengingat cerita demi cerita yang dilaluinya. Cerita yang menjadi semangat hidupnya untuk tumbuh dan berkembang menjadi idola bersama para penggemarnya.
Kabar lolos audisi disambutnya dengan rasa setengah bahagia, namun juga dia merasakan dilema panjang ketika ternyata jadwal training yang harus dilaluinya bentrok dengan rencana ibadah ziarahnya bersama teman-teman yang sudah direncanakan sejak lama.
“Gimana Pah?” Tanya Shania kepada Papahnya bimbang ketika harus memutuskan apakah harus mengikuti training atau ibadah ziarahnya.
“Berdoa itu kalau punya iman bisa dimana saja asal bener-bener. Tapi kalau kesempatan itu nggak bisa dateng dua kali.” Ucap Papah Shania ketika dimintai pertimbangan oleh anak kesayangannya itu.
Shania kembali tersenyum dalam tidurnya. Kata-kata ayahnya itu sampai saat ini menjadi pegangan hidupnya. Sesaat, Shania kembali mengingat-ingat cerita indah yang telah dilaluinya. Hingga akhirnya dia terlelap dalam tidurnya, dan mimpi panjang yang masih akan dilaluinya, bersama keluarga baru yang akan membawanya mencapai mimpi, dan keluarga itu bernama JKT48.

[FanFict] Piagam Juara


Kau yang terkunci dalam kenangan, sekarang bangkit kembali – Petikan lagu Kimi ni Au Tabi Koi o Suru’, JKT48. 
“Kamu Anand? Beneran?” Kata Dina dengan wajah tak percaya, jari telunjuk tangan kanannya menunjuk seorang pria di hadapannya.
Anand mengangguk. Anggukannya yang terlalu kuat membuat hidungnya yang cukup mancung tak sanggup menahan kacamatanya yang merosot ke bawah. Dalam hati, Anand mencoba berteriak, Iya! Aku Anand, teman satu kelasmu saat kita SMP dulu.
“Wah Nand! Aku nggak nyangka kamu se macho ini sekarang. Dulu pas SMP kan kamu culun banget. Selalu duduk paling depan, nggak gaul.” Kata Dina mengenang masa lalunya, tepat delapan tahun yang lalu saat dia masih duduk di bangku SMP.
Anand tak merespon.
“Dulu kacamatamu nggak sekeren ini. Kacamatamu dulu bulet, mirip kacamata yang dipake boboho. Film favoritmu yang ditulis di buku tahunan SMP. Hahahaha….” Dina tak bisa menahan tawanya yang lepas mengingat masa yang dianggap dia lucu ketika dia masih berumur belia. Anand hanya terdiam. Di balik diamnya, Anand juga mengingat masa-masa yang dikenang Dina. Masa-masa dia masih berbadan gembul, hingga teman-teman satu sekolahnya lebih banyak yang memanggilnya boboho ketimbang nama aselinya.
Lift sudah terhenti di lantai 31 sebuah gedung perkantoran di kawasan Jalan Sudirman Jakarta. Anand keluar dari lift itu. Kepalanya tak sempat menoleh ke Dina, yang sejak dari lantai 1 berdiri di belakangnya. Dia sedikit merasa menyesal ketika di lobby gedung tadi menyapa sosok yang sangat di kenalnya. “Kamu nggak berubah dari dulu. Ceplas-ceplos. Parfum kamu juga nggak berubah. Masih pake parfum bayi rasa jeruk, sama kayak kamu masih SMP. Itu yang bikin aku yakin kalo itu kamu tadi di lobby. “ Pikir Anand sambil berjalan keluar dari lift, lalu menuju ke dalam kantornya, sebuah perusahaan digital agency. Sebuah kantor yang terlihat sangat formal dari pintu luar, tetapi ketika masuk ke dalamnya, orang tidak akan mengira kalau itu adalah tempat bekerja. Pun ruang kerja Ananad. Lebih mirip kamar seorang mahasiswa ketimbang ruang kerja seorang manajer. Di ruangannya lebih banyak peralatan untuk bermain games dan peralatan fitnes, ketimbang berkas dokumen yang harus dibacanya. Ini kantor manajer kreatif! Bukan kantor seorang akuntan! Ujar Anand setiap ada yang terheran melihat kondisi ruangannya.
Anand terduduk di sofa kerjanya. Dihadapannya, sebuah acara televisi sedang menayangkan demo masak yang diperagakan oleh Chef Farah Quin. Namun Anand tak begitu memperdulikannya. Dibiarkan televisi tetap menyala, dan Chef Farah Quin tetap terlihat sedang mengiris-iris daging sapi.
Anand lebih mencoba untuk berkonsentarsi dengan pekerjaaannya. Dibacanya beberapa email yang masuk melalui Pocket Tablet pribadinya. Beberapa email berisi tentang pekerjaan, beberapa lagi berisi tentang berbagai penawaran bisnis. Email rutin yang sudah terbiasa dibacanya. Beberapa menit membaca email, konsentrasi Anand meredup. Tak sengaja jarinya menyentuh tombol Home dari Pocket Pcnya. Dahi Anand mengkerut. Sebuah foto saat dia masih SMP yang menjadi background di gadgetnya itu kembali mengingatkannya pada sosok yang tak sengaja ditemuinya tadi di lift gedung. Di layar televisi, Farah Quin kini sudah usai mengiris daging sapi. Jemarinya yang terlihat lembut dari layar kaca kini melumuri daging yang diiris olehnya dengan cairan berwarna putih, mirip mayonaise.
“Nggak ada yang berubah dari foto ini sama wajah kamu tadi. Lesung pipi kamu masih sedalam dulu. Behel warna pink yang kamu pakai juga sejenis dengan behel yang kulihat saat kau tersenyum di dalam lift tadi.” Anand berbicara pada foto di layar gadgetnya, foto yang menggambarkan seorang anak perempuan dengan seragam SMP yang sedang mengangkat piala, namun pemandangan foto dirusak oleh penampakan sesosok anak berbadan gembul dengan kacamata bulat yang mengintip dari belakang. Foto yang membuat Dina waktu itu marah berhari-hari pada Anand, sampai akhirnya Dina bisa kembali tersenyum saat Anand akhirnya menyogoknya dengan contekan saat Ujian Nasional.
“Ah…bodoh. Kenapa aku justru diam di kesempatan yang nggak bakal aku temui lagi seumur hidupku?” Cerocos Anand menganggap saat itu dirinya adalah orang paling bodoh sedunia. Dia merasa program dietnya saat lulus SMP hingga kuliah seketika sirna ketika bibirnya kaku di hadapan Dina di pertemuan yang tak terduga. Padahal, maksud dari diet yang dilakukannya adalah ingin mendapatkan hati Dina.
Anand kembali menatap foto yang ada di layar gadgetnya. Namun tak lama, dia mengunci kembali gadget kerjanya, lalu memasukannya ke dalam saku di kemejanya. “Kamu masa lalu yang selalu terkunci di dalam benakku” Pikir Anand, dan kini di layar TV, Farah Quin sudah mulai memasak irisan daging. Di bagian bawah layar televisi, tertulis nama menu masakan dalam bahasa asing. Anand masih belum begitu peduli dengan apa yang dilakukan farah quin di layar televisi.
Jam sudah menunjukkan pukul Sembilan Pagi. Dari ruang kantornya, Anand bisa melihat dengan jelas jalur sepanjang jalan jenderal sudirman. Mobil sudah mulai merayap. Di sebelah kanan, Anand bisa melihat bundaran hotel indonesia. Air mancur bundaran HI sudah mulai mengalir. Menari-nari. Seperti sedang berpesta. Anand berpikir, tarian itu untuk merayakan kebodohannya. Kebodohan melewatkan kesempatan yang belum tentu akan datang dua kali.
Belum sempat Anand melamun, seorang karyawati dari luar masuk ke dalam ruangannya. Ruangan kantor anand yang terpisah dengan ruangan staff di kantornya memang sengaja membiarkan pintu terbuka lebar. Budaya di kantornya mencoba untuk memberikan keterbukaan bagi siapa saja. Termasuk bagi staff yang akan menuju ruang manajer. Dia tak perlu mengetuk pintu, kecuali jika sedang ada tamu penting.
“Maaf pak Anand.” Sapa seorang staf yang baru masuk ke ruangan anand.
Anand berbalik dari jendela kantornya ke arah stafnya yang baru masuk. “Kenapa Nin?”
“Kandidat asisten manajer untuk bapak sudah hadir. Tinggal diadakan wawancara dengan bapak.” Ucap staf anand.
“Dari hasil wawancara departemen kamu, gimana hasilnya?” Tanya Anand dengan wajah santai, namun tetap serius.
“Semuanya sesuai dengan kriteria dan standar perusahaan kita. Secara umum, dia qualified. Pengalamannya pun cukup menjanjikan.” Ucap Ninda, dengan gaya santainya, namun tampak serius menjawab pertanyaan anand.
“Terus sekarang orangnya mana? Boleh dibawa ke ruangan saya.” Ucap Anand sambil menuju ke sofa yang tadi didudukinya. Di hadapannya, kini Farah Quin sudah selesai memasak daging, dan kini dia sedang menyajikan masakannya. Sepintas, Anand memperhatikan layar televisi, sambil menunggu stafnya yang bernama Ninda kembali dan membawa calon asisten manajer yang dimintanya. Anand menatap layar televisi. Farah Quin menyajikan masakan dagingnya dalam sebuah piring lebar, dan membentuk masakannya menyerupai hati.
Nindya kembali masuk ke ruangan Anand. Melihat staffnya kembali dengan sesosok perempuan di belakangnya, Anand meraih remot televisi di sampingnya. Dimatikannya televisi yang sedang menampilkan Farah Quin sedang memamerkan masakan yang baru dibuatnya.
Anand masih belum sadar sosok yang baru saja dibawa staffnya. Sosok perempuan yang sudah mulai terkaku melihat calon atasannya sedang duduk santai di ruangannya, menanti sesi wawancara dengannya yang akan menentukan apakah dia dapat bekerja di perusahaan ini atau tidak.
“Pak, ini Mbak Dina, kandidat asisten manajer yang akan kita wawancara.” Ucap Nindya begitu berdiri di dekat Anand.
Wajah Anand yang tadinya santai berubah menjadi tampak abstrak. Dahinya mengerut. Matanya mengernyit. Kacamatanya kembali merosot ke bawah. Bukan karena dia mengangguk terlalu kuat. Entah mengapa. Kini Anand merasa kacamatanya terlalu berat di hidungnya. Dilepasnya kacamata bermerek yang ia kenakan. Diusapnya mata Anand dengan lengan kirinya. Mencoba merubah ekspresi seprofesional mungkin.
Anand berdiri, bersandiwara menyembunyikan perasaan kalut di hatinya. Mencoba seprofesional mungkin menghadapi sosok yang baru saja dikenalkan oleh Staffnya. Anand menjulurkan tangan kanannya, menginisiasi untuk menyalami Dina.
“Anand…” Ucap Anand sambil menatap Dina. Dalam hati, anand kembali berteriak, “Kenapa harus kamu…”
“Dina..” Ucap Dina membalas perkenalan sekedar formalitas profesional. Dalam benaknya, Dina berpikir mungkin Anand sedang menjaga profesionalitas sebagai manajer di hadapan staffnya, juga seorang calon karyawan yang di dalam lift memberikan candaan yang bisa merusak kariernya.
Hampir lima detik terjadi keheningan. Mungkin jika layar televisi masih menyala, Farah Quin sedang tersenyum melihat menu masakannya sudah jadi. Daging berbentuk Cinta, ala Jepang.
“Oh iya, silakan duduk.” Anand menyilakan dua orang di hadapannya duduk di dua sofa berbeda. Nindya duduk di sofa bersebelahan dengan Anand, dan Dina duduk sedikit menyerong ke arah kiri Anand.
Hampir satu jam Wawancara berlangsung, kaku, hambar, namun tetap diselingi candaan-candaan ringan seputar pekerjaan. Anand menyadari, wawancara yang dilakukannya hanya sekedar formalitas. Lebih dari itu, anand sedang memikirkan dua hal yang sedang beradu di benaknya. Diterima, dan itu berarti akan ada skandal asmara yang akan mengganggu pekerjaannya, atau ditolak dan itu berarti pasti akan membuat Dina kecewa.
***
Dina terduduk di ruang santai yang disediakan oleh perusahaan bagi karyawan di kantor Anand. Dirinya menatap luas melihat sekeliling kantor. Berbagai alat hiburan, televisi layar lebar, bermacam buku literatur lengkap ada di sana. Dia mencoba membandingkan ruangan tempatnya duduk dengan kantornya sekarang. Jauh berbeda, karena kantor tempatnya sekarang terkesan kaku seperti kantor-kantor pada umumnya.
“Coba aku bisa diterima kerja di sini. Tapi……” Belum usai Dina berujar, Nindya terlihat keluar dari ruangan Anand dan menghampirinya.
“Mbak Dina, maaf nunggu lama.” Nindya berbasa basi.
Dina beranjak dari duduknya, dan menyoba memberikan senyum simpul dari bibirnya. Di ruangan Anand, Anand terlihat mengintip Dina yang sedang tersenyum menyambut Nindya. “Aih…lesung pipimu benar nggak pernah berubah.”
***
Dina kelur dari Lift lantai 1, menuju lobby gedung tempat dimana kantor yang baru mewawancarainya berada. Dicabutnya kartu pengunjung yang tertempel di saku kemejanya, lalu dikembalikan ke resepsionis. Wajahnya terlihat sangat lesu. Masih terngiang ucapan Nindya, orang yang dari awal mengundangnya untuk wawancara awal hingga akhirnya wawancara manajer. Sebuah penolakan halus, yang memang menjadi resiko bagi seorang pelamar pekerjaan.
“Maaf mbak Dina. Secara pribadi, saya sangat menginginkan mbak untuk dapat bergabung bersama tim di perusahaan ini. Namun secara kualifikasi, manajer perusahaan yang akan menempatkan Mbak Dina masih merasa belum sesuai dengan kualifikasi yang diinginkan.” Ucapan Nindya yang terngiang di benak Dina.
Sepanjang kaki Dina melangkah dari resepsionis menuju basemen gedung tempat mobilnya terparkir, Dina hanya terbayang penolakan perusahaan. Banyak spekulasi. Apa benar kualifikasinya yang tidak sesuai, atau karena ucapannya yang telah membuat kecewa manajer yang mewawancarainya. Atau Anand tersinggung dengan candaannya di Lift tadi pagi.
Berbagai momen sepanjang wawancara masih sangat terngiang di benak Dina. Sampai akhirnya, hembusan angin kencang menabraknya, hingga sebuah berkas amplop yang dipegangnya hampir lepas dari pegangannya.
Dina hampir terlupa dengan amplop cokelat seukuran folio yang dipegangnya. Amplop yang kata Nindya adalah amplop “ucapan terima kasih.”. Nindya tidak mengatakan lebih dari itu.
Sesampainya di dalam mobil, Nindya mencoba menghempaskan badannya di kursi mobil. Selama satu jam dia sudah mengerahkan pikirannya untuk menjawab berbagai pertanyaan wawancara. Namun belum berhasil. Rasa penasaran kini mengalihkan pikiran kecewanya. Diraihnya amplop cokelat yang sempat diletakkan di dashboard mobil. Dibukanya dengan lembut.
Hanya ada tiga  lembar kertas. Namun beberapa lembar kertas itu membuat Dina tersenyum, simpul.
Lembar pertama yang dilihatnya adalah sebuah piagam lusuh. Piagam delapan tahun lalu yang sudah dilupakannya. Dia teringat, piagam itu didapatkannya ketika mengikuti lomba cerdas cermat bersama Anand. Beberapa hari setelah perlombaan, Anand dan Dina terlibat pertengkaran karena pose foto dina yang dirusak oleh penampakan anand. Sampai lulus SMP, dina sudah melupakan piagam yang telah diraihnya saat menjuarai lomba cerdas cermat.
Lembar kedua yang dilihat Dina adalah fotonya yang sedang memegang piala, namun dirusak oleh penampakan pria gembul di belakangnya. Foto yang membuatnya bertengkar dengan pria gembul itu.
Lembar ketiga, Dina membaca sebuah tulisan yang dibuat oleh seorang pria yang baru saja mewawancarainya,
Dina, maaf. Jujur, kamu adalah sosok asisten manajer yang sangat diinginkan oleh perusaaan ini. Namun, aku yakin kamu juga sadar, bahwa jika kita bekerja bersama, profesionalitas kita berdua akan dipertaruhkan.
Aku hanya ingin, kita tetap menjalin sahabat yang sempat sirna delapan tahun ini.

Temanmu, Boboho.

Di bagian bawah surat, Dina melihat sebuah nomor ponsel yang sengaja ditulis oleh Anand. Dina kembali tersenyum simpul. Ditulisnya beberapa kata, lalu dikirimkannya beberapa kata itu melalui sms ke nomor yang tertera di surat itu.
***
Dari lantai 31, Anand kembali menatap jalur jalan jenderal sudirman dari ruangannya. Sudah limabelas menit dia berdiri. Memikirkan apa yang telah terjadi sedari pagi hingga siang ini di kantornya. Lamunannya terpecah ketika ponselnya bergetar, dan sebuah sms masuk.
“Dasar! Kamu nggak berubah. Tetep aja mirip boboho. Usil. J “
Anand tersenyum. Ditatap kembali tulisan sms yang baru masuk ke dalam ponselnya. Nomor yang belum pernah disimpan, lalu disimpannya nomor itu dengan nama Dina.
Benak Anand kembali menerawang,”Ini reuni yang tak terduga. Aku yakin reuni ini akan berakhir manis. Nanti”